Hadiri Beramai-Ramai

Minggu, 11 Oktober 2009

Cornel Simanjuntak


Menggali Tulang Pahlawan

Pencipta lagu-lagu heroik & patriotik, Cornel Simanjuntak (alm) yang dimakamkan di pemakaman kerkop, dipindahkan ke taman makam pahlawan Semaki, Yogyakarta. (ms) SERENTETAN tembakan salvo. Kemudian sisa-sisa tubuh Cornel
Simanjuntak, yang digali dari Pemakaman Kerkop, Yogya, disimpan
dalam liang lahad yang lebih terhormat di Taman Makam Pahlawan
Semaki di kota yang sama. Hari itu, 10 Nopember 1978, Yogya
mengenang kembali komponis pejuang itu.

"Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air," demikian kalimat
di batu nisan. Dan sambil terisak-isak muncul Blucher
Simanjuntak, adik kandung mendiang, mewakili keluarganya di Art
Gallery Senisono waktu upacara pelepasan kerangka. Ia mengaku,
seandainya Cornel dimakamkan di Sumatera, belum tentu acara
kehormatan seperti yang disaksikannya hari itu bisa terlaksana.
Satu hal yang diidamkan orangtua Cornel sendiri, T. Simanjuntak,
tak lain agar puteranya itu bisa diboyong ke Makam Pahlawan. Dan
sekarng idaman itu terlaksana -- setelah sang ayah sendiri
meninggal 5 bulan yang lalu.


Keimin Bunka Shidosho

Cornel Simanjuntak, yang dianggap membawa bibit unggul
perkembangan musik Indonesia, meninggal 15 September 1946 di
Sanatorium Pakem, Yogya, dalam status perjaka. Almarhum yang
beragama Katolik dilahirkan di Pematang Siantar tahun 1921 dari
keluarga pensiunan Polri. Cornel tamatan HIS St. Fransiscus
Medan, 1937, HIK Xaverius College Muntilan 1942.

Kemudian, jadi guru di Magelang beberapa bulan. Pindah ke
Jakarta, jadi guru SD Van Lith. Tetapi karena bakat seninya
lebih garang, ia beralih profesi ke Kantor Kebudayaan Jepang,
Keimin Bunka Shidosho. Di sanalah ia menciptakan lagu propaganda
Jepang antara lain: Menanam Kapas, Bikin Kapal, Menabung -- yang
paling populer di antaranya berjudul Hancurkanlah Musuh Kita.

Guru musiknya adalah Pater J. Schouten dan Ray serta juga
mendiang Sudjasmin. Pengalaman perangnya pun ada. 1945-1946, ia
mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gurka/Inggeris.
Malang, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen - Tangsi
Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Dirawat di RSUP. Belum
sembuh benar, ia diselundupkan ke Karawang karena Gurka
melakukan pembersihan. Dari Karawang ia dikirim ke Yogya. Di
kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik.
Antara lain: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan,
Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka.

Peluru di paha Cornel konon tetap bersarang ketika penyakit
kronis TBC menyerangnya -- dan langsung menumbangkannya ke liang
lahad. Menjelang maut Cornel masih sempat mengangkat telepon
untuk menyampaikan pesan-entah kepada siapa, entah pesan
apa-tapi ia keburuh jatuh, dan mata serta mulutnya menjadi kaku.
Menurut rekannya sesama pejuang, Karkono Kamajaya, menjelang
ajal ia masih sempat menulis lagu bernama Bali Putra Indonesia.
Lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.

Pemindahan Cornel ke Mahkam Pahlawan sebenarnya sudah diusulkan
sejak September 1978. Hampir saja merepotkan, karena beberapa
instansi meminta data-data berupa bintang jasa yang ada.
Ternyata Cornel tidak sebiji pun mengantongi persyaratan itu. Ia
hanya mewariskan tanda kehormatan Piagam Satya Lencana
Kebudayaan yang dianugerahkan tahun 1961 oleh Pemerintah
Indonesia. Letkol Suharsono S., Dan Dim 0734 Yogya, menganggap
Satya Lencana itu setingkat dengan Bintang Gerilya atau
bintang-gemintang lainnya. Jadi bisa dipakai sebagai tiket masuk
Mahkam Pahlawan, asal ada izin keluarga.

Usul yang didalangi para seniman yang tergabung dalam 'Sasana
Vocalia Yogya' pimpinan Suyudono Hr tersebut, akhirnya jadi
lancar ketika KASAD Jenderal Widodo berada di Yogya 4 Nopember
lalu. Jenderal memberi instruksi oke.

Dari Kerkop, kerangka sempat diinapkan di Art Gallery Senisono
di samping Gedung Agung. Maklumlah gedung mi dlanggap pusat
kesenian Yogya. Selama itu lagu-lagu mendiang berkumandang
terus-menerus dibawakan oleh sejumlah bocah dari Paduan Suara
Bocah Bocah Sasana Vokalia. Ada enam buah karangan bunga. Tetapi
mengherankan sekali, para seniman tersohor di Yogya, termasuk
Kusbini, teman mendiang, tidak kelihatan.

Mutiara sebelum gaya

Wawancara tempo dengan binsar sitompul tentang lagu-lagu cornel simanjuntak. umumnya mengandung musik yang kuat & tidak terasa dibikin-bikin. tapi lagu zaman sekarang, antara lagu dan kata seperti tempelan saja. (ms) DI bawah ini wawancara Bambang Bujono dari TEMPO dengan Binsar
Sitompul, musikus Indonesia yang kini mangkal di Lantai VII RRI
Jakarta.

Pendapat anda tentang lagu-lagu Cornel Simanjuntak. Misalnya
marsnya dibanding mars sekarang.

Suasana penciptaannya berbeda. Lagu-lagu Cornel diciptakan saat
Proklamasi sudah mendekat -- zaman Jepang. Umumnya mengandung
musik yang kuat, tidak terasa dibikin-bikin, sederhana, sehingga
terasa seolah tak ada usaha menemukan tema misalnya. Begitu
lancar mengalir seperti kalau kita minum air. Saya kira itu
tercapai berkat bakat yang kuat yang didukung penguasaan musik
yang baik -- dan suasana waktu itu. Suasana lagu-lagunya
arsitektural: bagus, rapih, utuh. Itu sebabnya kenapa tahan
lama.

Lagu mars sekarang umumnya tidak tumbuh dari suasana yang
benar-benar mendorong spontanitas penciptanya untuk mencipta.
Biasanya lagu dan kata-kata jalan sendiri-sendiri, seperti
tempelan saja. Tujuannya banyak: soal kesehatan pun dibikin
mars, padahal lagunya kayak orang berbaris -- tidak tepat. Mars
Cornel, kata dan lagu satu ide. Bagaimana dengan lagu-lagunya
yang dipesan Jepang Pun musiknya bagus. Lagu-lagu pesanan
Jepang itu bisa dilihat sebagai latihannya, selain sebagai
upaya- hidup.

Cornel pernah membuat eksperimen dengan sajak-sajak Sanusi Pane.
Pendapat anda? Lho kok dibilang eksperimen? Buat saya dia itu
sudah berhasil. Dia betulbetul menyukai beberapa sajak Sanusi
Pane, menghayati benar-benar, baru menciptakan lagunya. Misalnya
O, Ang1n. Di sana irama lagu dan kata-kata sudah utuh, bukan
eksperimen lagi. Ritme yang teratur dalam kata-kata memang sudah
menarik untuk dijadikan musik. Sudah musikal.

Bagaimana kedudukan Cornel dalam musik Indonesia?

Paling menonjol dalam musik seriosa. Sumbangannya paling
berarti, meski karyanya bisa dihitung. Baru kemudian marsnya,
lalu paduan suara. Semua ciptaannya lagu serius, diciptakan
dengan kesungguhan hati.

Tapi kalau dicari siapa yang terpengaruh dia sekarang, sulit.
Meski dalam seriosa pun. Sebab, kita hanya bisa menyebut
seseorang dapat mempengaruhi kalau ciptaannya sudah memiliki
gaya yang mantap. Cornel hanya mencapai usia 25 tahun.
Ciptaannya kalau kita kumpulkan merupakan butir-butir mutiara,
tapi belum punya satu gaya, satu warna. Seandainya dia punya
kesempatan lebih lama, untuk menemukan yang khas dia, nah, itu
baru.
Tempo Edisi. 40/IIIIIIII/02 - 8 Desember 1978


Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Cornel Simanjuntak"

Posting Komentar