Hadiri Beramai-Ramai

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2009

Profil SBM

Sanggar Bebas Merdeka

berdiri pada tanggal 11 Agustus 2009, diprakarsai oleh Randy Syahrizal, M. Laksamana Mahardika, Rahmad Dian Harahap dan Arlen Girsang. SBM merupakan sebuah komunitas seni dan sastra yang bersifat terbuka.

Sebenarnya gagasan mengenai pembentukan sebuah wadah atau sanggar yang bertujuan untuk menghimpun seniman-seniman dan sastrawan-sastrawan muda yang miskin pengalaman namun punya keinginan belajar dan berkarya sudah diwacanakan sejak setengah tahun yang lalu. namun terlambat bukanlah sebuah bentuk kemunduran. keinginan belajar dan berkarya adalah semangat awal yang diusung oleh pekerja-pekerja seni dan budaya didalam Sanggar Bebas Merdeka.

Sanggar ini berkedudukan di Medan. Sanggar Bebas Merdeka mempunyai kolektif kerja yang dipimpin oleh seorang Koordinator, dan beberapa departemen. kolektif kerja sanggar saat ini masih diisi oleh 4 orang seniman amatir (namun giat belajar dan mencoba produktif dalam berkarya), antara lain :

Koordinator :
Randy Syahrizal

Departemen Sastra dan Budaya :
Rahmad Dian Harahap

Departemen Seni Rupa :
M. Laksamana Mahardika

Departemen Seni Musik :
Arlen Girsang




read more...

Selasa, 08 September 2009

Salah Paham

+ Brengsek kau…

- Hei…Kenapa memaki..?

+ Diamlah kau, sialan.!

- Ada apa denganmu..?

+ Bukan urusanmu..!

- Aku sungguh tak paham

+ Tak perlu paham, idiot.!

= Nikmati saja keributan ini.!

Siantar, 23 April 2007

Randy S.

read more...

AKU HARUS SEKOLAH

Dika Mohammad

Dua hari lagi
Aku masuk sekolah
Setelah dua tahun kumpul biaya
Lusa aku jadi siswa SMA

Emak bilang
Uang pangkal kurang
Masih ngutang sama sekolah

Hari ini bapak tak pulang
cari pinjaman utang
Buat beli celana, baju, tas, buku dan sepatuku

Sekarang susah cari uang
Tau kau kenapa
Barang rongsok yang biasa kita pulung
Harganya terus turun

Kata Pak Haji Amat
Bandar pemulung dikampung sebelah
Krisis gobal penyebabnya
Diberita ada pemulung demonstrasi
Nentang limbah asing masuk ke negeri ini
Tapi menteri perdagangan malah memberi ijin

Mak,….
Presiden pernah bilang
Sekolah gratis..tis..tis..
Kenapa sekolahku harus ngutang

Emak pernah tanya
Kepala sekolah ngomong ini swasta
Tak ada bantuan pemerentah
Kalaupun ada cuma SD dan SMP
Presiden bohongi kita nak

Aku mau sekolah
Walau celana pinjam tetangga
Aku harus sekolah
Supaya kelak bisa lawan presiden mak


Jakarta, 23 Juli 2009
Dika Mohammad
Aktif di Dept. Kajian, Informasi dan Komunikasi DPN-SRMI
Koordinator Taman Bacaan Rakyat Kolong Tol Penjaringan


read more...

Puisi Kawan

Karya : Inu (Anggota SENJA)

Siapa yang produksi acara ini?
Dan bodohnya lagi
ada stasiun tv yang mau tanyangi
hmm
ini kejamnya idustri kapitalisme
kemiskinan jadi dagangan
tak tahan hati ini perih
perih sekali
aku lihat
seorang kakek jompo menangis,
mencium tangan sipemberi uang kaget,
mengucap terimakasih tiada henti
bagai tuhan siempunya uang
dan sesi ini yang sepertinya dijual
iklan-iklan banyak
air mata penonton bercucuran
Hah…….
Ini ekploitasi kemiskinan
Tidak layak
Dipertontonkan
Kapitalisme berlindung dalam acara ini
Beramal pada simiskin,
berjiwa sosial,
seolah baik mereka terlihat dimata
Assuh…
Agama bilang itu ria
Ria itu sifat setan
Syetan itu jahat
Musuh ulama dan pemuka agama
Musuh rakyat juga
Tapi pemuka agamanya tak tangap
Rakyatnya gimana?
Iya…. Rakyat harus usir syetan itu
Syetan kapitalis itu
Aku juga miskin kawan
Aku juga butuh uang
Lihat kemiskinan kita
Partai-partai jual rakyat miskin
Pejabat-permeritah juga mengatasnamakan rakyat miskin
Kaum kapitalis dagangkan kemiskinan kita
Kita orang miskin laku sebenarnya
Kenapa kawan?
Kenapa kita ngak bersatu
Untuk ramai-ramai lawan mereka yang terus-menerus menjual kemiskinan kita
Mengeksploitasi kemiskinan kita
Untuk simpati untuk komoditi
Kawanku semiskin denganku
Binasakan mereka
ratakan dengan tanah
ehm…
tu kan aku jadi marah..

Senayan, 14 Juli 09
SENJA (SENIMAN JALANAN JAKARTA)



read more...

Buat Wiji Thukul

Kata orang-orang kau hilang
Aku bilang mereka keliru
Aku selalu menjumpaimu
Kau selalu ingin menjadi peluru

Kata orang-orang kau sirna
Aku bilang mereka salah
Setiap demonstrasi
Aku selalu mendengar teriakmu
“Hanya ada satu kata: LAWAN..!”

Kata orang-orang kau mati
Aku bilang mereka buta dan tuli
Karena tak ada kata mati
Buat puisi

Medan, 7 Maret 2007

Randy S.


read more...

Kepada kawan

Dear sobat,.
Aku menyapamu dengan kegenitan
Saat ini aku lebih suka berhari di mall
Menikmati ratusan baju dan celana pengunjung
Aku menjilatinya dengan kehausan imaji

Tolong jangan mengejekku
Aku tak layak mendapat predikat anak gaul
Aku hanya penikmat
Sungguh asyik menikmati lenggak-lenggok tubuh

Apa kau sedang tertawa geli
Atau sedang mencaci maki
Terserah padamu kawan
Kau sendiri akan tahu nikmatnya kesemuan

Disini banyak kesakralan
Disini banyak harapan dan impian
Disini banyak doa-doa
Yang terlantun dengan nada genit
Kau tak perlu banyak-banyak berikhtiar
Ikuti saja aku
Kita beribadah bersama disini

Baiklah kawan
Aku sudahi suratku ini
Dengan kalimat pendek
“Selamat beribadah”

Medan, 27 Desember 2007
Randy S.

read more...

Mengenang WS Rendra; Kita Mesti Merumuskan Keadaan


RUDI HARTONO

BERDIKARI ONLINE, Jakarta: Pada Kamis malam, sekitar 22.30 WIB, di rumah sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat, salah satu penyair besar Indonesia, WS Rendra, menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Si Burung Merak, demikian orang banyak menyebutnya, adalah seniman yang berdiri di tiga jaman; Soekarno, Orde baru, dan Era Neoliberalisme. Selama itu pula, seperti yang diakui oleh banyak orang, dia tetap konsisten berdiri di sisi mereka yang lemah, berpihak kepada rakyat.

Ketika Orde Baru berkuasa, Ia ikut dalam gerakan perlawanan mahasiswa. Beberapa puisinya, seperti "Sajak Sebatang Lisong" dan "Aku Tulis Famplet Ini", sengaja didedikasikan bagi perjuangan tersebut. Tak pelak, karena posisi politik dari karya-karyanya yang menentang kekuasaan orde baru, banyak karnyanya yang akhirnya dilarang penguasa, diantaranya "Mastodon dan Burung Kondor".

Puisi-puisi rendra selalu mendengun ketika di bacakan di aksi-aksi mahasiswa. Selain itu, ketika sejumlah aktifis di tahan rejim orde baru, diantaranya Rizal Ramli, Indro Tjahyono, dan Herry Akhmadi, puisi-puisi terbukti sanggup mengobarkan semangat perlawanan mereka.

Di depan mahasiswa UI Salemba, tahun 1977, dia membacakan puisi berjudul "sajak pertemuan mahasiswa", untuk mengobarkan perlawanan mahasiswa menentang kekuasaan orde baru. Bagi Rendra, kekuasaan orde baru bukan hanya meminggirkan nasib ratusan juta rakyat Indonesia, tapi juga menciptakan jaring laba-laba yang menghalangi kebebasan menyampaikan pendapat. Dia berkata;

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,

maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.

Tidak mengandung perdebatan

Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Setelah kejatuhan orde baru, sebuah kebebasan terbatas akhirnya diperkenankan oleh penguasa baru. Seperti kita ketahui, perubahan terbatas ini tidak segera mengubah keadaan 200 juta rakyat kita. Malahan, di bawah pemerintahan baru ini, sebuah kediktatoran baru hendak ditegakkan, yakni kekuasaan segelintir pemodal atas nasib mayoritas manusia.

Dia sadar betul bahwa penguasa baru, yang bertangan neoliberal, tidak kalah jahat dibanding dengan kekuasaan orde baru, sebelumnya. Untuk itu, dia kembali mengobarkan "nasionalisme dan kemandirian ekonomi", sebagai jalan mengakhiri penindasan neoliberal.

Di sinilah kehebatan Rendra, yang mungkin tidak dimiliki seniman-seniman di angkatannya. Para seniman salon, mengutip rendra, mencoba menjauhkan realitas dan keadaan real dari karya-karyanya, sambil memuja-muja "kebebasan bereskpresi" yang semu. Sejak awal, rendra menyadari bahwa karyanya tidak bisa terlepas dari politik, dan, tentu saja, sebuah keberpihakan. Menganenai hal ini, Rendra mengatakan;



Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur, Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum



Kita mesti mengenali keadaan, demikian kata Rendra, sebagai pisau analisa untuk mengamati persoalan yang nyata, dan, nantinya, untuk menentukan sikap.

Dulu, tahun 1970-an, ada 8 juta kanak-kanak yang tidak dapat dididik (baca, sekolah) oleh rejim orde baru. Sekarang ini, di bawah SBY, ada 13 juta kanak-kanak tanpa pendidikan. Dan, seperti dikutip Kompas, ada 60% lulusan universitas yang menganggur alias tidak mendapat pekerjaan. Persoalan-persoalan inilah yang diamati rendra, sehingga dia bisa merumuskan sikap.

Penjajahan asing merupakan pangkal dari segala persoalan bangsa ini, demikian kata Rendra. Metode pembangunan nasional sekarang ini, dianggap oleh Rendra masih meniru gaya kolonial dan penjajah asing, bukan menggali kebudayaan dan kepribadian bangsa sendiri. "Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing," ujarnya.

Dia pun lebih bangga kepada Kajaoladido, negarawan besar bangsa bugis, ketimbang ajarang Montesque ataupun code Napoleon.

Neoliberalisme adalah rumus asing. Sistim ini berbasiskan kepada keserakahan dan prinsip kemakmuran bagi segelintir orang. Sayangnya, pemerintahan SBY masih setiap menjadi murid sejati dari rumus asing ini, bersama dengan beberapa teknokrat didikan barat, diantaranya Budiono, Sri Mulyani, dan sebagainya.

"Kita harus merebut kemerdekaan itu lagi," Ujar rendra. Di sela-sela tumpukan sampah Bantar Gebang, Bekasi, WS Rendra membacakan puisi heroik Chairil Anwar, Karawang Bekasi. Di akhir pembacaan puisinya, dia berteriak lantang; "lawan kekuasaan asing".

Rendra memang kokoh berdiri dengan sikapnya. Sementara itu, banyak seniman salon akhirnya memilih berada satu gerbong di belakang neoliberalisme.

Kita boleh berbeda pandangan soal pilihan politiknya, karena dia, akhirnya, mendukung pasangan Megawati-Prabowo. Tapi, untuk persoalan itu, dia sendiri punya alasan yang yang cukup rasional, dan tepat. Menurutnya, dia mendukung Mega-pro karena kesamaan sikap, yakni sama-sama melawan dominasi asing (baca, imperialisme).

Iya, benar. Sekarang ini, ancaman nyata terhadap kehidupan rakyat bukan lagi "jaring laba-laba" yang menghalangi kebebasan menyampaikan pendapat, tapi sebuah sistim ekonomi yang melegitimasi dominasi asing.

WS Rendra telah mengenalkan sebuah metode canggih : mengenali keadaan. Mungkin, metode ini bukan temuannya, tapi, untuk di Indonesia, dia mungkin satu-satunya seniman yang bisa mempergunakan metode ini dengan baik. Karena metode ini pula, dia tidak pernah berhenti untuk berjuang terhadap kungkungan keadaan. Tidak heran, sejarahwan A Teeuw dalam kata pengantar buku potret pembangunan, menyebut Rendra sebagai pemberontak, seseorang yang selalu sibuk melonggarkan kungkungan dan keadaan.

RUDI HARTONO, Divisi Sastra Sanggar Satu Bumi, Redaksi berdikari Online.



read more...

PERJUANGAN KEBUDAYAAN di BAWAH NEOLIBERALISME

Sebelum masuk ke tahap apa yang harus dilakukan dalam perjuangan kebudayaan di alam neoliberalisme ini, pertama, yang harus dipahami adalah kebudayaan tidak bisa lepas dari sistem ekonomi politik yang sedang berkuasa di satu negeri. Keduanya tak bisa terpisahkan. Untuk bisa memahami budaya massa yang terjadi sekarang ini, kita harus masuk dalam sejarah tiga era kepemimpinan politik yang ada di Indonesia.

Era Soekarno

Soekarno menerapkan politik Demokrasi Liberal dalam artian semua ideologi diperbolehkan tumbuh berkembang. Berdirinya banyak partai dan ormas (Pemilu thn 1955 diikuti 100an partai) membuktikan hal itu. Soekarno bahkan mampu memetakan tiga spektrum kekuatan besar di Indonesia, yakni yang disebutnya dengan Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM). Tiga kekuatan itulah yang coba disatukan Soekarno dalam sebuah cita-cita menjadikan Indonesia negeri yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.

Ekonomi Tertutup yang dianut Soekarno terwujud dengan menolak bantuan dari negeri-negeri kolonialist Barat. Penolakan terhadap intervensi kekuatan asing (dalam hal ini dominasi modal) pernah pula ditegaskan oleh salah satu pimpinan teras Partai Komunis Indonesia (PKI) MH. Lukman pada tahun 1959 dalam artikel berjudul ‘Penanaman Modal Asing Memperkuat Kedudukan Imperialisme di Negeri Kita’. MH. Lukman berkata: “ ….. Kami anti penanaman modal asing karena keyakinan kami bahwa dengan penanaman modal asing atau dengan imperialisme bukan saja tidak bisa memperbaiki tingkat penghidupan rakyat dan mengembangkan ekonomi nasional, tetapi malahan menghancurkan kedua-duanya. Tidak ada kaum imperialis di dunia ini yang menanamkan kapitalnya di manapun juga berdasarkan perikemanusiaan untuk menolong sesama manusia”.

Kita tentu ingat seruan mahsyur Soekarno saat itu: ”Go To Hell With Your Aid..!”

Politik liberal Soekarno justru menjadikan dinamis di lapangan kebudayaan. Lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang (yang ditandatangani di Jakarta tanggal 18 Februari 1950, menyatakan "Revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai"), berlanjut dengan polemik budaya antara Lekra - Manikebu. Selain Lekra (yang lahir pada 17 Agustus 1950) juga terbangun wadah kebudayaan seperti Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang didirikan warga Nahdatul Ulama (NU).

Aura politik Soekarno yang anti penjajahan asing saat itu merembes ke kerja-kerja kebudayaan. Misalnya mobilisasi massa untuk ganyang Malaysia (karena konsolidasi Malaysia akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga jadi ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia) dan aksi boikot film-film import oleh Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS) karena dinilai berisi propaganda yang berbahaya bagi kesadaran massa.

Era Soeharto

Politik Otoriter Orde Baru terwujud dalam pemasungan: pembatasan hak‑hak dasar partisipasi rakyat dalam berorganisasi – berpolitik. Itu pun masih ditambah dengan penerapan 5 paket UU Politik (Pemilihan Umum, Susunan dan Kedudukan MPR/DPR, Partai Politik dan Golkar, Referendum dan Organisasi Kemasyarakatan), juga dwi fungsi ABRI (militer Indonesia/TNI memiliki dua tugas, yaitu menjaga keamanan - ketertiban negara serta memegang kekuasaan mengatur negara). Ini semua semakin mengukuhkan kontrol dan dominasi kekuasaan Orde Baru Soeharto kepada rakyat. Hanya ada 3 partai politik (PPP – PDI – Golkar); pembredelan koran, majalah dan pelarangan buku‑buku merupakan ”kebijakan” politik Soeharto atas nama ”stabilitas” keamanan negara.

Soeharto menganut sistem Ekonomi Liberal/liberalisasi ekonomi (terbalik 180 derajat dari era Soekarno) dengan membuka lebar pintu bagi modal-modal luar negeri. Tahun 1967 keluar UU No 1 tentang Penanaman Modal Asing/PMA. PMA bebas dari pajak negara, PMA berkuasa penuh atas sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia. Koorporasi raksasa macam Freeport, Newmont, ExxonMobil, ConocoPhilips, Chevron, British Petrolium, HalliBurton dan seterusnya silahkan masuk. Pemerintah juga mulai berhutang pada IGGI, IMF, Bank Dunia, Paris Club.

Politik otoriter Soeharto melahirkan budaya bisu di rakyat. Tak ada budaya kritis, tak berani beda pendapat dengan pemerintah karena negara begitu bengis dan tak segan menghantam siapapun yang mencoba tak ikut aturan. Bahkan bisa-bisa, 5 orang berkumpul tanpa seizin keamanan setempat bisa jadi masalah besar.

Liberalisasi ekonomi (yang kemudian diistilahkan pemerintah dengan globalisasi) praktis membawa masuk produk-produk budaya dari peradaban barat ke Indonesia, mengubah budaya masyarakat kita. Yang tadinya hanya mengenal budaya kerakyatan dan sisa-sisa feodal, sejak adanya gelombang neoliberalisme kita pun tahu: diskotik, Coca Cola, MTV, mode/fashion yang bisa membuat penampilan para remaja kita seragam.

Kita tentu masih ingat film Ghost di tahun 1991, trend saat itu adalah seluruh remaja putri kita meniru plek gaya rambut Demi Moore si pemeran utama film tersebut. Atau ikut pencitraan (seperti sang model dalam produk di iklan di TV) bahwa kulit yang baik itu harus putih, rambut yang bagus itu harus lurus, perut yang sehat itu harus rata (dulu orang ingin jadi gemuk seperti Patih Gajah Mada, Tunggul Ametung, Ken Arok, Napoleon Bonaparte, Alfred Hitchcock karena gemuk adalah simbol kemakmuran dan kesuksesan). Maka berbondonglah orang di seluruh negeri membeli kosmetik pemutih kulit, salon diantri orang yang ingin Ribounding (proses pelurusan rambut secara permanen), gymnasium – fitness centre digeruduk guna pelangsingan perut, makanan, minuman, jamu, obat-obatan dan alat-alat (yang menjanjikan penurunan berat badan dan mengencangkah perut dalam waktu singkat) ramai dibeli orang.

Era Reformasi/Neoliberalisme

Era sekarang (yang orang biasa menyebut dengan era reformasi) pemerintahan kita menerapkan liberalisasi politik dan ekonomi.

Organisasi dan partai politik berdiri, kebebasan berpendapat - kebebasan pers dijamin undang undang (walau demokrasi belum sepenuhnya, karena ajaran Marxisme – Leninisme, Ahmaddiyah masih jadi larangan).

Liberalisasi Ekonomi yang merupakan kelanjutan era Soeharto dulu semakin membuat rakus imperialisme mencaplok sumber daya alam negeri kita (minyak, gas, nikel, emas, timah, baja,

bijih besi dst). Mereka terus berpindah - terus ”browsing” ladang-ladang mana lagi yang bisa dieksploitasi. Ladang lama tergerus habis, tersisa tinggal limbah dan lingkungan rusak.

Runtuh - bangkrutnya industri nasional karena memang tidak mampu bersaing dengan korporasi – korporasi asing dalam hal modal juga SDM/penguasaan technologi.

Karena pembangunan ekonomi/cari modalnya dengan ngutang ke IMF, Bank Dunia, Paris Club maka harus bayar ke para lembaga donor internasional tersebut. Ini menyedot banyak APBN negara yang seharusnya digunakan untuk maximum program – program sosial.

Neoliberalisme dalam budaya menjadikan kita terbiasa belanja ke Mall (yang tumbuh subur menggusur pasar-pasar tradisionil yang dulu becek, bau, plus juga melenyapkan interaksi positif antar sesama pembeli/pembeli dengan pedagang). Tidaklah buruk kalau kita ikut budaya maju peradaban barat, mengkonsumsi makanan capat saji di Mc Donald’s, menikmati musik di Hard Rock Cafe, trance bersama DJ favourite, nonton film terbaru produk Hollywood di Mega Blitz, ngopi di Starbucks sambil online atau mendatangi pameran komputer terbesar untuk update informasi terkini dunia technologi komputer - IT dsb. Hanya saja itu belum jadi budaya yang juga bisa dinikmati seluruh rakyat negeri ini. Mahalnya biaya sekolah berpengaruh pada sumber daya manusia Indonesia. Pada akhirnya kita hanya terus mengkonsumsi tanpa mampu mencipta bahkan menandingi produk-produk maju budaya barat.

Neoliberalisme dalam makna globalisasi juga telah menghilangkan batas-batas negara dan bangsa dalam menaikkan berbagai genre kesenian kita ke tingkat dunia. Sepertinya tak ada sekat dalam menilai bentuk-bentuk kesenian yang berkembang.

Inul bisa saja ditolak di sini, tapi di belahan dunia lain justru diminati. Gamelan dan wayang sekarang jadi milik dunia tak hanya Jawa & Bali. Karya Sastra Pram yang berbahasa Indonesia bisa dibaca warga dunia dengan melalui proses penterjemahan ke 41 bahasa asing. Si ’Laskar Pelangi’ Andrea Hirata diantri dan dikejar ratusan orang yang minta tanda tangannya, tidak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dan Singapura.

Lalu Bagaimana Perjuangan Kebudayaan Di bawah Neoliberalisme?

Lapangan budaya era neoliberalisme sekarang ini memungkinkan kita menggunakan demonstrasi, organisasi, teater, film, vergadering, rapat, kongres, diskusi, selebaran, pamflet sebagai tehnik dan ekspresi dalam berjuang.

Dan suatu perjuangan kebudayaan harus memiliki landasan ideologi, yakni harus punya cita-cita membangun masyarakat sejahtera, modern, berpemerintahan bersih dan pro rakyat/kerakyatan. Akhirnya gerakan kebudayaan bermakna politik. Dalam bentuk kongkritnya, membangun organisasi supaya bisa berbicara seluas-luasnya perihal problem-problem rakyat berikut jalan keluarnya.

Sebagai referensi bolehlah kita belajar dari negeri - negeri yang bisa begitu berdaulat karena berhasil membangun gerakan kebudayaan dan semangat nasionalisme progressif untuk kemajuan bangsanya.

Spirit Swadesi-nya India

Mereka bangun Bollywood untuk melawan dominasi Hollywood, mereka buat merk minuman Cola Cola sebagai tandingan Coca Cola. Di awal 2008 ini Tata Motors Ltd. produsen mobil dan kendaraan komersial terbesar di India meluncurkan mobil termurah di dunia dan berseru: "People's Car". Cara berpakaian banyak orang India (bahkan oleh warganya yang tinggal di luar India) tidak melulu ikut trend mode eropa – amerika. Selain sebagai budaya identitas juga berkaitan erat dengan industri dalam negeri mereka, hasil produk textile dalam negeri mendahulukan kebutuhan dalam negeri India sebelum diexport. India maju dalam hal IT dan perkembangan teknologi, punya banyak jagoan-jagoan software, sampai super komputer tercepat pun tidak kalah dengan negeri-negeri barat.

Spirit Kamikaze-nya Jepang

Siapa sangka negeri sekecil Jepang yang miskin sumber daya alamnya justru mampu menjajah Indonesia (bahkan dunia) yang super besar ini. Industri otomotif mereka begitu digdaya, mobil-mobil buatan Jepang mengisi garasi-garasi rumah rakyat, dan kalau jalan-jalan protokol di seluruh negeri ini sedang macet, dapat dipastikan 100 % kendaraan yang sedang memenuhi jalanan itu pasti produksi Jepang. Icon-icon kebudayaan mereka macam komik Manga, Harajuku Style – J Rock/Japanese Rock mendominasi dunia. Jepang juga mampu mengembangkan tehnik bertani modern/tehnik bertani hidrolik, membangun lahan pertanian secara indoor bahkan di lantai atas sebuah gedung pencakar langit.

Spirit kemandirian China

Kebijakan tegas politik pemerintahan China (kasus Tiananmen, Falun Gong, konflik dengan Taiwan dan Tibet) di satu sisi memang menuai banyak kecaman, tapi sisi lainnya China berhasil dalam menjaga keutuhan dan kemajuan negerinya. Kebijakan tegas lain adalah hukuman berat (potong jari dsb) bagi pelaku korupsi, bahkan berlaku sampai ke keluarga inti; si ayah korupsi, ibu dan anak juga terkena hukuman. Pemerintah China (lewat Departemen Keamanan Publik dan Departemen Publikasi Komite Sentral Partai Komunis China) juga memerangi pornografi yang dikongkritkan dengan penutupan ribuan situs porno. Alasannya tentu bukan karena pemerintah takut terhadap kaum oposan berpropaganda menyerang pemerintah lewat internet, atau bersiap jadi tuan rumah olimpiade 2008, tapi China memproteksi rakyatnya agar tidak jadi “sumber nafkah” bagi situs-situs porno yang banyak datang dari luar China. Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan ada sekitar 210 juta orang yang aktif mengunakan internet tentunya akan jadi pasar menggiurkan bagi bisnis situs porno mencari pelanggan. Kungfu China yang tak pernah mati, terus bermetamorfosis, menerobos Hollywood, improvisasi cerita tanpa membuang identitas budaya asal. Kungfu China mengalahkan legenda Highlander dari Scotland.


Lalu kita sendiri harus gimana..?

Kita sudah menyimpulkan bahwa Indonesia sekarang adalah negeri yang terjajah oleh imperialisme modern. Kongkritnya dengan dikuasainya kekayaan energi dan tambang kita oleh koorporasi-koorporasi asing, juga kewajiban bayar utang luar negeri adalah bentuk penjajahan yang lain.

Untuk bisa maju menjadi negeri-negeri hebat seperti diulas di atas maka kita harus kembali ke semangat Soekarno. Semangat yang dalam istilah pimpinan politik kita waktu itu sebagai TRISAKTI; menjadikan Indonesia Mandiri secara ekonomi, Berdaulat secara politik dan berkepribadian di bidang Budaya.

Sekaranglah keharusan kita membangun gerakan Pembebasan Nasional; lewat demonstrasi, lewat organisasi, dengan teater, film, seni musik, seni sastra, vergadering, rapat, kongres, diskusi, selebaran, pamflet, internet dan berseru: ”Hapus Hutang Luar Negeri, Nasionalisasi Industri Tambang Asing, Bangun Pabrik (Industri) Nasional untuk Kesejahteraan Rakyat.

Meluaskan gerakan pembebasan nasional, menjadikannya budaya bahkan kesadaran luas di rakyat,

itulah tugas para pekerja budaya sekarang ini.

* Tejo Priyono

Ketua Jaker & Kabid Budaya PAPERNAS.



read more...

Kesenian dan Perjuangan Kita

Kesenian dan Perjuangan Kita

Oleh MYN. Sapto

Setengah orang berpendapat bahwa soal kesenian itu hanya merupakan soal iseng (sambilan) belaka dalam rangka kehidupan perjuangan organisasi kita. Di antara banyak kawan, perhatiannya selalu ditumpahkan kepada soal-soal organisasi saja dengan tidak menghiraukan aktiviteit kita dalam soal-soal kesenian. Tidak hanya demikian, tetapi cemoohpun tidak kurang!

Bagi kawan-kawan yang membisu dalam soal kesenian, suasana selalu diliputi oleh sedemikian rupa. Kita harus bekerja, pekerjaan masih banjak. Kesenian itu 'kan hiburan! Nah kalau mendapati sementara kawan yang memetik gitar, memukul gamelan, berlagu, dan sebagainya, dengan secara spontan kritik datang bertubi-tubi, bagaikan senapan mesin yang memuntahkan peluru ke sarang lawan. Bung tak tahu kerja, Bung tak mengindahkan kesibukan... Sehingga kawan yang ditegur dan dikritik secara spontan dan dangkal tadi menjadi melongo keheranan.

Memang, kejadian semacam itu adalah tidak mengherankan, selama kita masih membisu pada soal cabang kebudajaan jang penting. Lupa, bahwa perjuangan kita ini masih jauh sulit dan berat, tapi juga besar dan indah. Kita berjuang untuk mencapai kemenangan. Tentu saja kita tidak menghendaki keterbelakangan atau kemandekan sekalipun! Tetapi dalam perjuangan kita ini, sekali-kali tentu terbentur kepada kekalahan. Tidak hanya demikian, justru sampai kepada kelesuan dan akhirnja tenggelam dalam laut keputus-asaan yang akan membekukan aktiviteit kita. Selanjutnya apa yang akan kita peroleh dari kebekuan-kebekuan tadi, sedikit banyaknya tentu akan merugikan organisasi kita.

Oleh karena itu menjadi masalah bagaimana kita harus mengembangkannya? Pahlawan-pahlawan seni mempunyai rol yang penting dan ikut menentukan dalam kehidupan perjuangan kita. Apakah dan dimanakah rol kesenian dalam perjuangan kita? Memang jika hanya dilihat secara dangkal, tidaklah nampak sedikitpun. Tetapi jika ditinjau secara mendalam, kita akan tahu bahwa dia tidak dapat kita pandang remeh, sambilan atau soal-soal hiburan semata. Pendapat ini akibatnya bukan hanya menganggap bahwa kesenian jadi soal sambilan, tapi sekaligus akan menempatkan kesenian di luar perjuangan kita. Jelas sekali bahwa pendapat ini adalah pendapat yang tidak benar, yang harus segera kita berantas. Usaha ke arah ini, mulai sekarang harus kita intensifkan. Sebab di kalangan kita sampai pada saat ini, masih banyak sikap-sikap pendangkalan semacam tersebut.

Bagaimana keadaan kaum buruh perkebunan dewasa ini? Kesenian kaum buruh perkebunan dewasa ini nyata sekali berada dalam tingkat ke arah kemajuan. Mengapa tidak? Di sana sini nampak adanya organisasi-organisasi kesenian. Perkumpulan-perkumpulan yang baik ini, sebagian dipimpin langsung oleh organisasi, di mana pelaku-pelakunya (anggota) kesenian itu tergabung dalam salah satu SB di lapangan kerjanya. Sedangkan di daerah-daerah lain, mereka itu sendiri yang membentuk organisasi kesenian dan organisasi kesenian itulah yang memimpin langsung di dalam SB. Jadi bukan SBnja. Kesenian yang ada di kalangan kaum buruh perkebunan, ada beberapa macam, antaranya: ketoprak, wayang orang, ludruk, pencak, kecapi, sandiwara musik, tari-tarian buruh yang modern, juga regu-regu penyanyi koor dan masih banyak lagi. Malah di samping itu sudah nampak adanya pertumbuhan seni sastra dan lukis, misalnya saja di Air Molek dan Kajuaro. Suatu hal yang harus diakui, bahwa soal kesenian di lapangan kaum buruh perkebunan menunjukkan hari depan yang baik.

Beberapa kemajuan yang kita lihat, ialah adanya cerita-cerita sandiwara yang sudah baik. Misalnya: Tinah (diambil dari WS), Pemilihan Umum, Sabot Yang Gagal (dari HR), Pengusiran, dan sebagainya. Juga ketoprak-ketoprak dengan ceritanya: Untung Suropati, Diponegoro, Perang Banten, dan sebagainya. Tentu saja beberapa pelaku-pelakunya ada yang belum sempurna dalam melakukan rolnya. Di samping beberapa kemajuan, kita juga melihat kebekuan-kebekuan. Misalnya kumpulan kesenian itu tidak berkembang tapi malah mati. Walaupun tidak, tapi dia belum merupakan kesenian yang maju, dan mendorong perjuangan kita. Tetapi baru merupakan sikap pengabadian dari keagungan kesenian kita yang lama. Demikianlah pada umumnja kesenian kita yang berkembang di kalangan kaum buruh perkebunan pada saat ini. Terkadang malah hanya merupakan kesenian hiburan semata-mata. Kesenian-kesenian kita yang lama, kesenian yang diwariskan oleh nenek mojang kita, sebagian besar sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan sejarah. Tetapi walaupun demikian, sikap kita terhadap pewarisan tersebut ialah menerima dengan kritis, kita akan menerima yang baru dan mengembangkannya.

Adalah pikiran yang benar, bahwa tanpa mengubah tingkat hidup kaum buruh itu sendiri, kita akan selalu terbentur dan tidak akan lancar mengembangkan kesenian kaum buruh. Tetapi bukanlah berarti bahwa kita pasif dan perkembangan kesenian itu menggantung dan menunggu semata-mata pada datangnya perubahan tingkat hidup kaum buruh. Justru kesenian itu sendiri akan membantu untuk memenangkan perjuangan kita dan dari padanyalah kita mendapatkan suatu pencerminan keadaan yang obyektif, daripadanya kita gali bahan-bahan sebagai kenyataan dari keadaan sosial yang sedang berlaku, yang mencekik kaum buruh. Ini sekaligus akan membukakan mata kaum buruh ke arah kesadaran dan keuletan berjuang membebaskan dirinya dari penindasan. Hal ini juga akan berarti usaha pendekatan kepada organisasi serikat buruh.

Bicara tentang kesenian kaum buruh, adalah berarti membicarakan hampir dari sebagian besar kesenian rakyat Indonesia. Karenanya adalah penting. Jika hal ini kita hubungkan kembali ke atas, berarti kita dihadapkan pada tugas-tugas yang berat yang tidak kalah berat serta pentingnya dengan tugas-tugas yang lain.

Selanjutnya apa tugas kita yang pertama pada saat ini mengenai kesenian?

Jika kita meninjau susunan di tiap tingkatan organisasi kita, nyatalah bahwa pada umumnya tugas di lapangan kebudayaan dipertanggung-jawabkan oleh salah seorang kawan yang khusus. Dengan demikian dan juga dengan adanya pendiskusian yang khusus mengenai soal-soal kesenian secara luas dan mendalam, adalah memberikan kemungkinan yang besar sekali, bahwa kesenian di kalangan kaum buruh akan terus berkembang.

Pemeliharaan sebaiknja teratur. Untuk itu harus dibentuk suatu organisasi kesenian dan jangan sekretaris kebora itu sendiri memimpin langsung di dalamnya. Terkecuali jika keadaan setempat memaksa, dengan menunggu perkembangan selanjutnya. Agar pertumbuhannya tidak timbul tenggelam seperti kehanyutan yang tak tentu arah.

Di samping kita memelihara yang sedang berkembang, kita harus membangun atau memberikan suatu kemungkinan ke arah tumbuhnya kembali yang sudah beku dan yang belum tumbuh, membantu ke arah lebih besar daya kreatif.

Tukar menukar kesenian juga perlu. Artinya memindahkan hasil kemajuan mencipta dari satu daerah ke daerah yang lain. Pemindahan ini perlu, untuk mendorong dan membantu daerah-daerah lain yang belum maju. Tetapi jangan lupa, bahwa yang penting adalah bagaimana daerah-daerah itu sendiri dapat mencipta. Mengenai pemindahan, tentu saja dilakukan dengan cara memuatkan hasil-hasil ciptaan di majalah WS kita. Misalnya tidak hanya sajak-sajak, cerita pendek-cerita pendek, skets-skets, Sandiwara, lagu-lagu baru -- yang pernah diusahakan oleh DPP dimuat dalam WS -- jika babakan Sandiwara menelan banyak halaman dan belum mungkin WS kita memuatnya -- tentu saja tidak akan menjadikan WS kita majalah kesenian--, bisa diperbanyak yang kemudian disebar. Dengan demikian akan lebih pesat perkembangan kesenian di kalangan kaum buruh perkebunan. Kesenianpun harus merata dan meluas di kalangan kaum buruh perkebunan, dengan tidak adanya kesenian yang meluas dan merata, mustahil kesenian akan dapat mencapai mutu yang tinggi. Sebab kesenian yang sudah meluas dan merata, akan timbul suatu konfrontasi ke arah penilaian yang lebih baik, dan ini adalah merupakan suatu kontrol dan perbaikan.

Karenanya dalam soal ini, perlu diadakan sayembara tentang kesenian. Misalnya karang mengarang tentang beberapa hal di atas tadi, yang isinya mencerminkan suatu cita-cita dan perjuangan kaum buruh/rakjat, atau kenyataan-kenyataan yang terjadi pada dan di sekitar kaum buruh, dan yang bersifat mendidik. Hal ini juga akan mendorong ke arah lebih besar daya kreatif.

Pengalaman menunjukkan bahwa rencana-rencana kita tentang rapat-rapat, kursus-kursus, sering mengalami kegagalan dikarenakan adanya soal-soal yang tidak berarti. Misalnya film-film yang oleh majikan didatangkan ke kebun-kebun seminggu atau setengah bulan sekali, yang dalam pada itu waktunya terkadang bersamaan dengan waktu-waktu yang telah kita tentukan untuk rapat. Kaum buruh dengan begitu saja lantas meninggalkan rapat dan terus menonton film tadi. Ya, hal ini mudah dimengerti, bahwa pertama-tama karena mereka haus akan hiburan dan letaknya jauh dari kota-kota hingga terasing dari keramaian. Terutama sekali film memang mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat umum, terlebih di perkebunan.

Tetapi di samping kerugian kita karena mereka tak datang ke kursus atau rapat, kita akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi. Sebab pada umumnya film-film yang berisikan cerita picisan yang tidak mempunyai arti pendidikan sama sekali, bahkan merusak. Oleh karena itu, sesuai dengan tingkat keadaan dan kesadaran kaum buruh itu sendiri, mereka tidak mampu memerangi pengaruh kejahatan yang bertandang di balik layar putih itu. Menyerah!

Satu hal lagi, bahwa di beberapa daerah perkebunan, masih terdapat banyak kesenian-kesenian yang bersifat merusak. Kesenian-kesenian tadi ialah tari muda-mudi yang kebarat-baratan, malah hampir-hampir dapat dikatakan bukan lagi tari muda-mudi, gepok sengol anggota badan, sampai mencium dan sebagainya. Tayuban sampai kepada merusak tandaknya dan mencium karena mabuk minum wisky.

Jadi kegiatan kita di lapangan kesenian seharusnya mengimbangi dan melawan kepalsuan, kecabulan dan kejahatan tadi. Kita memberantas film-film dan pertunjukan-pertunjukan lainnya yang jahat, tetapi dengan tidak mengadakan kegiatan-kegiatan pada kita sendiri di lapangan kesenian, adalah tidak mungkin!

Kesenian kita harus menjadi pendorong dan sumber yang senantiasa mengalirkan kesegaran jiwa, keindahan hidup, dan api perjuangan yang tak kunjung padam. Harus selalu menjiwai langkah-langkah kita dan menjadikan manusia yang berkemanusiaan.

Beberapa uraian secara singkat di atas, hendaklah menjadikan sumbangan bahan diskusi oleh kawan-kawan lebih jauh. Terutama sekali dititik-beratkan pada daerah Sumatera Tengah. Mungkin sekali, kawan akan mengatakan bahwa, itu tidak lengkap, dan sebagainya, dan sebagainya, memang, tulisan ini bermaksud menggugah terhadap kepasifan jang selama ini terasa.
Dan alangkah lebih baiknya jika halaman kebudajaan dalam WS kita ini, kita jadikan lapangan pengolahan tentang kesenian. ***

(dari Warta Sarbupri, No. 3. Thn Ke VII, Achir Maret 1956)



read more...

Leo Tolstoy

Tolstoy adalah salah satu dari raksasa dari sastra Rusia abad ke-19. Karyanya yang paling terkenal antara lain adalah novel-novelnya Perang dan Damai dan Anna Karenina, serta banyak karya-karya yang lebih singkat termasuk sejumlah novella Kematian Ivan Ilyich dan Hadji Murad.

Rekan-rekan sezamannya sangat menghormatinya: Dostoyevsky menganggapnya sebagai yang terbesar di antara semua novelis yang hidup saat itu, sementara Gustave Flaubert mencetus: "Seorang seniman hebat, seorang psikolog hebat!". Anton Chekhov, yang seringkali mengunjungi Tolstoy di tanahnya di pinggiran kota, menulis: "Ketika sastra memiliki seorang Tolstoy, menjadi penulis itu mudah dan menyenangkan; bahkan bila kita tahu bahwa kita sendiri tidak mencapai hasil apa-apa, itu tidak menjadi masalah karena Tolstoy yang berprestasi untuk kita semua. Apa yang dilakukannya berguna untuk membenarkan semua harapan dan aspirasi yang ditanamkan dalam sastra." Para kritikus dan novelis yang belakangan terus memberikan kesaksian terhadap seninya: Virginia Woolf menyatakan Tolstoy sebagai "yang terbesar di antara semua novelis" dan Thomas Mann menulis tentang seni penulisannya yang tampaknya jujur—"Jarang sekali suatu karya seni yagn begitu mirip dengan alam"—perasaan-perasaan yang juga dimiliki oleh banyak orang lainnya, termasuk Marcel Proust, Vladimir Nabokov dan William Faulkner.

novel-novel otobiografinya, Masa Kanak-kanak, Masa Kecil, dan Remaja (1852–1856), terbitan-terbitannya yang pertama, menceritakan tentang anak seorang tuan tanah yang kaya dan kesadarannya yang bertumbuh perlahan tentang perbedaan-perbedaan antara dirinya dengan teman-teman bermainnya yang keturunan penggarap. Meskipun dalam kehidupannya di kemudian hari Tolstoy menolak ketiga buku ini dan menganggapnya sentimental, banyak dari hidupnya disingkapkan dalam buku-buku ini, mereka masih relevan karena isinya menceritakan kisah yang universal tentang pertumbuhan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa.

Dalam resimen artileri Tolstoy berpangkat letnan dua selama Perang Krim. Ia mengisahkan semua ini dalam bukunya Sketsa-sketsa Sevastapol. Pengalaman-pengalamannya di medan pertempuran menolong dirinya mengembangkan pasifisme, dan memberikan kepadanya bahan untuk gambaran yang realistik tentang kengerian perang dalam karya-karyanya di kemudian hari.

Fiksinya secara konsisten berusaha menyampaikan secara realistik masyarakat Rusia yang ada pada masanya. Orang-orang Kosak (1863) menggambarkan kehidupan dan keadaan bangsa Kosak melalui cerita tentang seorang bangsawan Rusia yang jatuh cinta dengan seorang gadis Kosak. Anna Karenina (1877) mengisahkan cerita-cerita perumpamaan tenang seorang perempuan yang berzinah, yang terjebak oleh kebiasaan dan kepalsuan masyarakat, serta tentang seorang pemilik tanah yang filosofis (mirip sekali dengan Tolstoy), yang bekerja bersama-sama dengan para penggarap di ladang dan berusaha memperbarui hidup mereka.

Tolstoy tidak hanya menggali dari pengalaman hidupnya sendiri tetapi juga menciptakan tokoh-tokoh sesuai dengan gambarannya, seperti misalnya Pierre Bezukhov dan Pangeran Andrei dalam Perang dan Damai, Levin dalam Anna Karenina dan sampai batas tertentu, Pangeran Nekhlyudov dalam Kebangkitan.

Perang dan Damai umumnya dianggap sebagai salah satu novel terbesar yang pernah ditulis, luar biasa luasnya dan keutuhannya. Kanvasnya yang luas mencakup 580 tokoh cerita, banyak di antaranya historis, yang lainnya fiktif. Ceritanya beralih dari kehidupan keluarga ke markas besar Napoleon, dari istana Alexander I dari Rusia ke medan tempur dari Austerlitz dan Borodino. Buku ini ditulis dengan maksud menjelajahi teori sejarah Tolstoy, dan khususnya ketidakberarian pribadi-pribadi seperti Napoleon dan Alexander. Yang agak mengejutkan, Tolstoy tidak menganggap Perang dan Damai sebagai sebuah novel (ia pun tidak menganggap banyak fiksi besar Rusia lainnya yang ditulis pada masa itu sebagai novel). Pandangan ini menjadi kurang mengejutkan bila kita menganggap bahwa Tolstoy adalah seorang novelis dari aliran realis yang menganggap novel itu sebagai kerangka untuk mengkaji masalah-masalah sosial dan politik dalam kehidupan abad ke-19. Karena itu Perang dan Damai (sebetulnya Tolstoy ingin menulis sebuah epil dalam prosa) tidak memenuhi syarat. Tolstoy menganggap Anna Karenina sebagai novel pertamanya yang sesungguhnya, dan memang ini adalah salah satu yang terbesar di antara semua novel realis.

Setelah Anna Karenina, Tolstoy berkonsentrasi pada tema-tema Kristen, dan novel-novelnya yang belakangan, seperti misalnya Kematian Ivan Ilyich (1886) dan Jadi apa yang harus kita lakukan? mengembangkan suatu filsafat Kristen anarko-pasifis yang membuat ia dikucilkan dari Gereja Ortodoks pada 1901.

Potret Leo Tolstoy (1887) oleh Ilya Yefimovich Repin

Keyakinan keagamaan dan politik
Keyakinan-keyakinan Kristen Tolstoy didasarkan pada Khotbah di Bukit, dan khususnya pada bagian tentang memberikan pipi kiri, yang dipahaminya sebagai pembenaran bagi pasifisme, anti kekerasan dan anti perlawanan. Tolstoy percaya bahwa menjadi seorang Kristen membuat ia seorang pasifis, dan karena kekuatan militer yang digunakan oleh pemerintahnya, menjadi pasifis berarti menjadi anarkis. Ia merasa sangat terisolasi di dalam keyakinan-keyakinannya ini, dan karena itu sesekali ia menderita depresi yang begitu parah sehingga, di manapun ia melihat tambang, ia ingin menggantung dirinya sendiri, dan ia menyembunyikan senapan-senapannya untuk mencegahnya melakukan bunuh diri.

Tolstoy percaya bahwa seorang Kristen harus memeriksa hatinya sendiri untuk menemukan kebahagiaan, ketimbang memandang ke luar kepada Gereja atau negara. Keyakinannya akan anti kekerasan ketika menghadapi penindasan adalah sebuah ciri khas lain dari filosofinya. Dengan mempengaruhi Mahatma Gandhi secara langsung dengan gagasan ini melalui karyanya Kerajaan Allah Ada di Dalam Dirimu (teks lengkap dalam bahasa Inggris dapat ditemukan di sini), Tolstoy telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap gerakan perlawanan anti kekerasan hingga masa kini. Ia yakin bahwa kaum aristokrasi merupakan beban bagi kaum miskin, dan bahwa satu-satunya solusi untuk kehidupan bersama kita adalah melalui anarkisme. Ia juga menentang hak milik pribadi dan institusi perkawinan serta menjunjung gambaran ideal selibat dan pantangan seksual (dibahas dalam Romo Sergius dan pengantarnya dalam Sonata Kreutzer. Karya Tolstoy di kemudian hari seringkali dikritik karena terlalu didaktik dan ditulis secara tambal-sulam, namun menggali semangat dan dinamisme dari kedalaman pandangan-pandangan moralnya yang keras. Rangkaian pencobaan terhadap Sergius dalam Romo Sergius, misalnya, adalah salah satu kemenangannya di kemudian hari. Gorky mengisahkan tentang bagaimana Tolstoy suatu kali membacakan bagian ini di hadapannya dan Chekhov dan bahwa Tolstoy begitu terpengaruh hingga mencucurkan air mata pada akhir pembacaan itu. Alinea-aliena lainnya yang belakangan yang mempunyai kekuatan yang luar biasa termasuk krisis pribadi yang dihadapi oleh para tokoh protagonis dari Kematian Ivan Ilyich dan Tuan dan Manusia, di mana tokoh utamanya (dalam Ilyich) atau pembaca (dalam Tuan dan Manusia) dijadikan sadar akan kebodohan kehidupan para tokoh protagonisnya.

Tolstoy menimbulkan pengaruh yang mendalam terhadap perkembangan pemikiran anarkis. Pangeran Peter Kropotkin menulis tentang dia dalam artikel tentang anarkisme dalam Encyclopædia Britannica 1911:

Tanpa menyebut dirinya seorang anarkis, Leo Tolstoy, seperti para pendahulunya dalam gerakan keagamaan rakyat pada abad ke-15 dan ke-16, Chojecki, Denk dan banyak lainnya, mengambil posisi anarkis terhadap negara dan hak-hak milik, menyusun kesimpulan-kesimpulannya dari semangat umum ajaran-ajaran Yesus dan dari penalarannya sendiri. Dengan seluruh kemampuan bakatnya ia membuat (khususnya dalam Kerajaan Allah ada di Dalam Engkau) suatu kritik yang dahsyat terhadap gereja, negara dan hukum bersama-sama, dan khususnya tentang hukum harta milik di masa kini. Ia menggambarkan negara sebagai dominasi dari yang kejam, yang didukung oleh kekuatan brutal. Para perampok, katanya, jauh kurang berbahaya dibandingkan dengan pemerintah yang terorganisasi dengan baik. Ia membuat kritik yang tajam terhadap prasangka-prasangka yang kini bermunculan mengenai keuntungan-keuntngan yang diberikan kepada manusia oleh gereja, negara dan distribusi harta milik yang ada, dan dari ajaran-ajaran Yesus ia menyimpulkan aturan untuk tidak melawan dan kutukan mutlak terhadap semua perang. Namun demikian, argumen-argumen religiusnya dengan sangat baik digabungkannya dengan argumen-argumen yang dipinjam dari pengamatan yang seimbang tentang kejahatan-kejahatan di masa kini, sehingga bagian-bagian anarkis dari karya-karyanya tampak menarik bagi para pembaca yang religius maupun yang tidak religius.

Sepucuk surat yang ditulis Tolstoy kepada sebuah surat kabar India berjudul "Surat kepada seorang Hindu" menghasilkan sebuah korespondensi panjang dengan Mohandas Gandhi, yang saat itu berada di Afrika Selatan dan sedang mulai menjadi seorang aktivis. Korespondensi dengan Tolstoy ini sangat mempengaruhi Gandhi dalam mengembangkan konsep perlawanan tanpa kekerasan, sebuah bagian sentral dari padnangan Tolstoy tentang agama Kristen. Bersama dengan idealismenya yang berkembang, ia juga menjadi seorang pendukung utama gerakan Esperanto. Tolstoy terkesan oleh keyakinan pasifis dari kaum Doukhobor dan mengangkat kasus penganiayaan yang mereka alami ke masyarakat internasional, setelah mereka membakar senjata-senjata mereka dalam sebuah protes damai pada 1895. Ia menolong kaum Doukhobor untuk pindah ke Kanada.

Pada 1904, ketika pecah Perang Rusia-Jepang, Tolstoy mengutuk perang itu dan menulis kepada pendeta Buddhis Jepang, Soyen Shaku dalam upayanya yang gagal untuk membuat pernyataan pasifis bersama.

Tolstoy adalah seorang anggota keluarga bangsawan Rusia yang sangat kaya. Ia belakangan percaya bahwa ia tidak berhak mendapatkan harta warisannya, dan terkenal di antara para petani karena kedermawanannya. Ia seringkali kembali ke tanah miliknya dengan sejumlah gelandangan yang dirasakannya membutuhkan pertolongan. Ia pun seringkali memberikan sejumlah besar uang kepada para pengemis di jalan dalam perjalanannya ke kota, sehingga membuat istrinya marah.

Ia meninggal karena radang paru-paru di stasiun Astapovo pada 1910 setelah meninggalkan rumahnya di tengah musim dingin pada usia 82 tahun. Kematiannya terjadi hanya beberapa hari setelah ia mengumpulkan keberanian untuk meninggalkan keluarganya dan kekayaannya dan mengambil sikap hidup sebagai seorang pertapa keliling—suatu pilihan yang telah digumulinya selama beberapa puluh tahun. Beribu-ribu petani berdiri di kedua tepi jalan pada saat ia dikebumikan. *



read more...

Surat Leo Tolstoy untuk “Saudara Tionghoa”

Sepucuk surat yang ditulis Leo Tolstoy seabad yang lalu untuk seorang saudara yang tinggal di Tiongkok ternyata masih relevan dengan keadaan sekarang. Apa yang digambarkan sastrawan besar dari Rusia itu kini masih terjadi, bahkan dengan tingkat yang lebih parah.

Nyaris terlupakan. Ada sepucuk surat unik, dimana saya mendapatkannya di sebuah buku antik yang dicetak oleh The Free Age Press, Christchurch pada 1900 di London. Ketepatan dan urgensinya benar-benar sangat menakjubkan dan sangat relevan dengan situasi sekarang ini, seakan surat tersebut baru saja ditulis kemarin bukannya seabad yang silam.

Surat ini ditulis pada tahun 1899 oleh seorang sastrawan terbesar sepanjang masa asal Rusia, Leo Nikolayevich Tolstoy (1829-1910), pengarang buku War and Peace dan Anna Karenina yang terkenal itu.

“Surat untuk Seorang Saudara Tionghoa” demikian judul surat tersebut, bercerita sebagai berikut :

Individu-individu dan masyarakat senantiasa dalam keadaan yang tidak menentu dari satu masa ke masa yang lain, namun ada saat dimana perubahan baik individu maupun masyarakat secara khusus akan muncul dan terungkap dengan jelas.

Lebih lanjut Tolstoy menuliskan:

Perubahan ini mencakup perlunya kebebasan diri mereka sendiri dari kuasa manusia yang semakin menjadi tak tertahankan …

Tolstoy kemudian menjelaskan tentang idenya bahwa tugas mulia ini memang harus ditunaikan oleh negara-negara Timur.

Negara-negara Timur ditempatkan demi tujuan ini pada masa-masa yang menyenangkan… tanpa harus menghilangkan keyakinan akan pentingnya hukum Surgawi atau Tuhan… hukum Tao.

Salah satu pesan yang diberikan oleh Leo Tolstoy didalam “Surat untuk Seorang Saudara Tionghoa” antara lain:

Kamu harus membebaskan diri kamu sendiri dari tuntutan yang tidak masuk akal dari Pemerintahanmu yang meminta kamu berbuat berlawanan dengan ajaran moral dan hati nurani kamu

Hanya mengikuti kebebasan yang sesuai dengan cara hidup yang rasional, yaitu Tao dan mereka sendiri akan dimusnahkan semua bencana yang disebabkan oleh pejabat kamu menyebabkan kamu…. Kamu akan membebaskan dirimu sendiri dari pejabatmu dengan tidak memenuhi permintaan mereka dan terlebih lagi, tidak mematuhi, kamu akan menghapus dukungan pada tindakan penganiayaan dan saling merampas.

Kalau kita cermati, kata-kata tersebut benar-benar mendalam dan penuh ramalan! Dan amat sesuai dengan keadaan saat ini sedang terjadi di negeri China!

Apabila bangsa Tionghoa dapat terus hidup, seperti mereka, mereka hidup seperti semula, sebuah kehidupan industri pertanian yang damai, tingkah laku mereka mengikuti prinsip tiga agama mereka: Konfusius, Tao, dan Buddha, ketiganya di dalam dasar mereka dengan tepat: Konfusius didalam kebebasan dari semua penguasa manusia, Tao tidak melakukan kepada orang lain apa yang tidak diinginkan terjadi pada diri sendiri, dan Buddha dalam belas kasih kepada semua manusia dan semua makhluk hidup, dan itu akan memusnahkan semua bencana yang sekarang mereka derita, dan tidak ada Kuasa yang mampu mengalahkan mereka.

Sulit dibayangkan oleh Tolstoy bahwa lebih dari seratus tahun orang-orang Tionghoa masih menderita “semua bencana yang digambarkannya itu…”

Pada momen sejarah yang sangat penting ini di dalam sejarah China, kata-kata Leo Tolstoy tersebut terdengar seperti suara yang membangunkan orang dari tidurnya, dan memberi semangat bagi rakyat China untuk menelusuri kembali sejarah dan budayanya yang agung, serta membuyarkan mimpi buruk dan penderitaan yang disebabkan oleh kejahatan partai komunis.

Agar dapat membebaskan diri sendiri dari iblis, seseorang tidak seharusnya melawan konsekuensinya: kekejaman yang dilakukan oleh Pemerintah, perampasan dan penyitaan negara tetangga, -tetapi dengan akar iblis; dengan hubungan dimana manusia meletakkan diri mereka sendiri kepada penguasa manusia. Apabila manusia mengakui kuasa manusia lebih tinggi dari kekuasaan Tuhan, lebih tinggi dari Hukum (Tao), maka manusia akan selalu menjadi budak dan lebih lagi, semakin rumit kekuasaan organisasi mereka… yang mana mereka adakan dan yang mereka ajukan. Hanya orang-orang itu dapat bebas untuk orang yang memiliki hukum Tuhan (Tao) adalah satu-satunya hukum tertinggi dimana semuanya harus direndahkan.

Bagaimanapun surat yang ditulis Tolstoy merupakan ramalan yang kini sedang terjadi di China, dimana kekuasaan komunis selama lebih dari 55 tahun telah membuat rakyatnya menderita dan merana. Tidak ada kebebasan menganut agama atau kepercayaan yang diyakininya. Latihan kultivasi Falun Gong yang sangat bermanfaat untuk kesehatan jiwa dan raga pun dilarang. Semua harus tunduk di bawah kebudayaan partai yang tak sesuai dengan hati nurani.

(Sumber:www.theepochtimes.com)

Sastrawan Besar, Pembaharu Moral

Bagi jagad sastra dunia, nama Leo Nikolayevich Tolstoy yang hidup pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sudah tak asing lagi. Karya-karya novelis asal Rusia ini sudah tersebar luas, dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, serta menjadi acuan bagi studi sastra kontemporer. Ia juga dikenal sebagai empu sastra realis karena karyanya berpijak dari realitas sosial.

Pandangannya tersebut justru telah menghadapkan banyak karyanya pada berbagai pelarangan, dan akhirnya pengucilan dari komunitas agama tertentu. Kini reputasinya telah pulih, dan diakui sebagai salah satu pemikir yang brilian sepanjang zaman. Belakangan ia juga dikenal sebagai seorang tokoh pembaharuan moral dan spiritual di negaranya.

Tolstoy memang termasuk penulis yang produktif pada zamannya, ia menulis beberapa karya, ada dua karyanya yang paling tersohor yakni War and Peace, dan “Anna Karenina”. Karyanya cukup kompleks, dipenuhi dengan ratusan watak yang setiap babak memiliki peranannya sendiri di dalam pengolahan cerita-cerita yang dinukilkannya dalam novel itu.

Banyak kritikus sastra menganggap War and Peace sebagai novel teragung sepanjang sejarah. Sebanyak 580 watak yang diceritakan dalam naskah novel tersebut telah menggabungkan tokoh-tokoh sejarah seperti Napoleon, Marat dan Alexander dari Rusia, bersama tokoh-tokoh rekaan seperti keluarga Bezukhov, Rostov, Bolkonsky dan Kuragin. Ia mendedahkan secara piawai problem sosial, politik, dan tradisi masyarakat Rusia.

War and Peace menggambarkan pemikiran Tolstoy tentang takdir dan manusia. Isaiah Berlin, mengomentari novel itu di dalam “The Hedgehog and The Fox” pada 1953 sebagai berikut. "Tidak ada siapapun yang dapat menandingi Tolstoy di dalam meluangkan satu perasaan yang spesifik, satu kualitas yang tepat mengenai sesuatu perasaan... yang dimiliki oleh satu kejadian tertentu, oleh individu, keluarga, masyarakat dan seluruh bangsa."

Begitu juga dalam novelnya “Anna Karenina” yang sudah difilmkan beberapa kali, Tolstoy menceritakan penderitaan tragis seorang isteri bangsawan bernama Anna yang jatuh cinta kepada Count Vronsky yang kembali telah membawa kegairahan dalam kehidupannya.

Karya lain Tolstoy yang kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah “Si Kecil Filip, Pergi ke Sekolah”. Enam puluh dongeng anak Rusia terangkum dalam buku ini. Dalam ceritanya itu ia menanamkan kebenaran, kejujuran, keadilan, kemurahan hati, kesetiakawanan yang sejati, kecerdikan, ketaqwaan kepada Yang Mahakuasa serta kerelaan mengampuni kesalahan sesama, merupakan nilai-nilai penting dalam kelangsungan hidup anak.

Itulah sebabnya, kenapa Tolstoy tidak merasa turun bobot kepengarangannya dengan menyapa anak-anak melalui dongeng sebagai pengantar tidur. Ia ternyata mencintai anak-anak dan sangat memperhatikan pendidikan dan perkembangan kepribadian mereka.

Hadji Murat yang juga sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah fiksi terakhir karya Tolstoy yang diterbitkan tahun 1912. Novel ini menceritakan kisah perlawanan Hadji Murat, seorang pemimpin Muslim yang disegani dan menjadi momok bagi tentara Rusia.

(Fadjar, dari berbagai sumber)

Sebuah Ramalan dari Rusia Utara

Arhangersk adalah suatu negara bagian di Rusia Utara. Iklimnya sangat dingin dan penduduknya jarang. Sudah beberapa tahun ini, praktisi Falun Gong (Falun Dafa) memperkenalkan latihan senam dan meditasi, serta mengklarifikasi fakta di sana. Belum lama ini, seorang praktisi baru membawa pulang buku Zhuan Falun karangan Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong.

Ibunya yang sudah berusia 80 tahun sangat terkejut saat melihat buku itu, dan menceritakan tentang sebuah ramalan yang amat populer selama beberapa dekade di daerah itu.

“Beberapa dekade lalu, saat saya masih muda, di desa ada seorang lelaki tua yang selalu meramal masa depan orang. Suatu kali dia berkata kepada saya, “Di masa mendatang umat manusia akan ditimpa banyak bencana. Dan, akan ada berbagai macam penyakit mengerikan serta bencana alam! Saat itu akan ada ‘seorang yang muncul dengan roda-rodanya’. Dia datang untuk menyelamatkan makhluk hidup. Saat itu, hanya dialah satu-satunya di seluruh dunia ini yang melakukan hal tersebut.”

Ibu praktisi itu membuka buku Zhuan Falun lalu berkata sambil menunjuk foto Guru Li Hongzhi, “Saat itu kata-katanya merupakan teka-teki bagi saya. Sekarang saya telah memahaminya. Inilah ‘seorang dengan roda’ itu, yang datang menyelamatkan makhluk hidup, sebagaimana yang diramalkan oleh kakek tua itu! Ini adalah buku yang bagus. Belajar dan berlatihlah kamu dengan baik.”

(Sumber:www.minghui.org)*



read more...

Kamis, 27 Agustus 2009

Mengenal Pablo Neruda

Mengenal Sosok Pablo Neruda
Oleh : Sigit Susanto

28-Jan-2007, 09:43:47 WIB - [www.kabarindonesia.com]

Seorang manusia telah lahir di dunia
di antara banyak
manusia yang dilahirkan
dia hidup membaur dengan mereka
yang telah ada sebelumnya,
dan tak menggenggam sejarah
hanya pertiwi,

Chile bagai pusar bumi, di mana
gudang minuman anggur mengkerutkan rambut kehijauan
buah anggur dipintal cahaya
minuman anggur lolos dikonsumsi warga
Parral nama tempat itu
di situ aku dilahirkan
pada musim dingin

Hujan dan Angsa
Sepenggal puisi Pablo Neruda di atas berjudul "Kelahiran" dari sebuah buku "Pablo Neruda, Memorial von Isla Negra". Parral, sebuah desa di Cile selatan, adalah tempat Pablo Neruda dilahirkan. Di desa itu terdapat hamparan tanaman anggur yang menggunung. Pasangan José del Carmen yang berprofesi sebagai masinis kereta api dan Rosa Neftali Basoalto, seorang guru sekolah dasar, telah melahirkan seorang penyair terkenal pada tanggal 12 Juli 1904. Bayi itu diberi nama Neftali Ricardo Reyes y Basoalto.

Ketika bayi itu masih berusia enam minggu, ibunya meninggal karena penyakit tuberkulosis. Sedangkan kakek bayi itu, yang bernama Don José Angel Reyes, hanyalah seorang petani kecil yang memiliki sepetak kebun, tapi punya anak banyak. Kemudian, Jose del Carmen pada tahun 1906 berpindah ke kota Temuco dan kawin lagi dengan Dona Trinidad Candia Marverde. Ketika penyair muda ini menginjak usia 14 tahun, dia mulai liar membaca buku-buku dengan melompat-lompat. Bacaannya mulai dari buku Jules Verne hingga buku-buku Vargas Vila, Strindberg, Gorki, Felipe Trigo, Diderot, Rimbaud, Lautréamont, Whitman, Majakowski, Aragon, Breton, Apollinaire, dan Trakl.

Pada tahun 1920 dia tamat dari sekolah menengah atas. Pada bulan Oktober tahun yang sama dia terpaksa harus mengubah nama aslinya, Neftali Ricardo Reyes y Basoalto, menjadi nama samaran, Pablo Neruda. Alasannya karena kecurigaan ayahnya pada puisi-puisinya yang dimuat di media. Secara tak sengaja dia mengambil nama seorang sastrawan Cheko, Jan Nepomuk Neruda (1834-1891).

Kemudian Neruda terpilih sebagai pimpinan media sastra "Ateneo Literario". Pada usia 16 tahun dia telah memenangkan lomba menulis puisi dan mendapat penghargaan tertinggi. Neruda menceritakan, betapa dia merasa malu dan takut bertemu Gabriela Mistral, seorang kepala sekolah perempuan. Mistral memberi Neruda hadiah buku-buku sastrawan Rusia antara lain karangan Tolstoi, Dostojewski dan Chekow. Belakangan justru ketiga penulis Rusia itu menjadi bacaan favoritnya.

Setelah itu Neruda melanjutkan belajar ke Santiago de Cile. Pada buku berjudul "Aku mengakui bernama NERUDA, aku telah hidup" (Ich bekenne NERUDA ich habe gelebt) dikisahkan masa kecil Neruda yang suka berkelahi, namun lemah dan kurang cerdik. Masih pada buku itu disebutkan bahwa salah satu kenangan masa kecilnya yang tak pernah dilupakan adalah pada hujan. Hujan yang sebulan penuh, bahkan setahun tanpa henti. Neruda mengintip dari jendela rumahnya. Jalan di depan rumahnya digambarkan berubah menjadi lautan lumpur. Rumah-rumah penduduk miskin terendam banjir dan terapung seperti kapal. Gunung api Llaima bangkit dan bumi bergetar.

Kepekaan Neruda bukan hanya pada alam, tapi juga pada unggas. Di masa kecilnya dia merasa tidak pernah belajar menulis puisi. Akan tetapi, ketika dia berada di danau Budi dekat laut Puerto Saavedra, tiba-tiba dia diberi seekor angsa yang hampir mati oleh seorang pemburu. Angsa itu dia rawat lukanya dan disuapi dengan roti dan tumbukan ikan. Berkali-kali dalam sehari dia membawa angsa itu ke sungai lewat lorong yang sempit dan dibawa pulang ke rumahnya lagi. Angsa itu sebesar tubuhnya sendiri.

Setelah 20 hari, angsa itu sembuh dan bisa berenang bersama-sama. Neruda menunjukkan dasar sungai yang berbatu dan berpasir serta menunjukkan ikan yang tubuhnya mengkilat seperti perak. Angsa itu mengira Neruda sebagai temannya sendiri. Angsa dengan leher yang hitam, diibaratkan seperti kain sutera. Paruhnya berwana oranye serta matanya merah. Sungguh seekor angsa yang indah. Namun matanya tetap sedih menunggu ajal. Kegelisahan Neruda memuncak dan mendorongnya untuk membuat coretan-coretan tangan.

Dia mengakui hasil coretan-coretannya menjadi terasa asing dan berbeda dengan bahasa sehari-hari. Itulah puisi awal Neruda. Dia menulis dengan perasaan was-was yang dalam, antara rasa takut dan kesedihan. Setiap hari dia mampu menulis antara dua sampai lima puisi. Biasanya dia menulis menjelang malam, ketika matahari akan terbenam. Dia menulis di teras rumah. Oleh sebab itu, buku pertamanya tahun 1923 terbit dengan judul "Fajar dan Senja" (Crepusculario).

Dia menjual mebel satu-satunya yang dimiliki dan menggadaikan jam pemberian ayahnya. Uang itu dia gunakan untuk membiayai penerbitan buku perdananya. Sering kali dia bertengkar dengan penerbitnya. Penerbitnya keras hati, tak boleh satu eksemplar pun dibawa, sebelum lunas semua. Tapi, Neruda cukup gembira. Pada tahun 1924 disusul karya keduanya yang berjudul "Dua Puluh Puisi Cinta dan Sebuah Lagu Kebimbangan" (Veinte poemas de amor y una cancion desesperada).

Di Batavia
Antara tahun 1927 - 1932 Neruda bertugas sebagai konsul Cile di Asia, antara lain Rangun, Colombo, Batavia, dan Singapura. Kedatangan Neruda pertama kali di Batavia menyimpan kisah konyol dengan pelayan hotel. Ketika itu dia hendak menulis telegram untuk pemerintahnya di Cile karena kedatangannya ditolak oleh pejabat Belanda. Tiba-tiba tintanya habis. Neruda memanggil seorang pelayan hotel untuk meminta tinta dengan memperagakan sebuah pensil di tangan sembari berkata,"Ink, ink." Pelayan hotel berseragam putih tanpa alas kaki itu hanya bengong, tidak mengerti arti bahasa Inggris "Ink". Maka, ada tujuh atau delapan pelayan hotel berdatangan. Ketika Neruda mengulangi berkata,"This, this." Kontan seperti suara kor mereka berucap ramah,"Tinta! Tinta." Akhirnya Neruda baru sadar, ternyata bahasa Spanyol "Tinta," juga sama dengan bahasa Melayu.

Tak lama tinggal di hotel, Neruda berpindah ke rumah barunya di jalan Probolinggo. Dia bertugas sebagai konsul baru negeri Cile dan merasa berakhirlah petualangannya mengelilingi dunia. Setelah dia berkenalan dengan Maria Antonieta Agenaar, gadis blasteran Belanda-Melayu kelahiran Jawa. Pada tahun 1930 gadis itu akhirnya resmi menjadi istri Neruda.

Pada film berjudul "Porträt des südamerikanischen Dichters" ditayangkan figur Maria Antonieta Agenaar ini sebagai wanita yang tinggi dan cantik. Di film itu juga disebutkan, kalau Neruda sempat beberapa bulan tinggal di Batavia tanpa kegiatan berarti dan hanya membaca buku Proust berulang-ulang selama empat kali. Perkawinannya juga dia kabarkan kepada bekas pacarnya, Albertina Rosa, yang punya nama muda Angel Cruchaga Santa Maria. Pada buku "Surat-Surat Cinta Pablo Neruda pada Albertina Rosa" (Pablo Neruda Liebesbriefe an Albertina Rosa) terdapat tiga surat yang ditulis dari Batavia. Salah satu surat itu seperti berikut:

Batavia, Jawa, 26 Januari 1931
Angel sayangku, terima kasih atas bukumu yang indah dan lengkap serta suratmu. Aku tulis sesuatu untukmu, yang akan aku kirim ke media sastra "Atenea". Aku sudah kawin. Demi aku, sebarkanlah persembahan foto istriku yang cantik ini kepada media "Zig-Zag". Di kalangan pertemanan di Cile mungkin aku dinilai negatif. Harus kukatakan, bukan karena apa, tetapi karena sebuah rasa kecintaan. Istriku tentu sudah kenal sekali denganmu. Wajahmu meyakinkan di rumah itu. Bila sudah terbit, kirimkanlah untukku dua eksemplar media "Zig-Zag." Tetapi jangan lupa, bahwa kamu bisa merusak sebuah keluarga yang damai
!Marahkah kamu? Pablo Neruda)

Tahun 1934 Neruda beserta istrinya berpindah tugas ke Barcelona dan di Spanyol mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Malva Marina. Pada waktu yang sama Neruda berkenalan dengan Delia del Carril, seorang perempuan asal Argentina. Kedatangan Neruda ke Spanyol sebetulnya tanpa memberitahukan siapapun. Namun, Federico Garcia Lorca, sahabatnya, tiba-tiba sudah menjemputnya di stasiun kereta api sambil membawa karangan bunga. Persahabatan kedua penyair itu makin akrab. Mereka sering berjalan-jalan ke sebuah taman. Dan mereka bermain sandiwara di taman itu. Neruda mengakui banyak belajar dari Lorca.

Tahun 1936 pecah perang saudara di Spanyol. Neruda menyaksikan banyak peristiwa tragis dan dia mengkritik rezim fasis Franco. Akhirnya Neruda ditarik dari jabatan sebagai konsul Cile di Spanyol. Pada saat yang sama dia bercerai dengan istrinya yang berasal dari Indonesia.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1939 dia bertugas sebagai konsul Cile di Paris. Di Paris dia mengorganisasi pengungsi Spanyol untuk diberangkatkan ke Cile dengan kapal barang "Winnipeg".

Kemudian, Neruda diangkat sebagai konsul jenderal di Meksiko. Tak berapa lama kemudian anak perempuan Neruda yang sering sakit-sakitan meninggal pada usia delapan tahun. Pada tahun 1945 Neruda resmi masuk partai komunis Cile. Dia pertama kali bertemu perempuan bernama Matilda Urruti. Sebagai penganut marxisme dia sempat bertemu Fidel Castro, namun hanya berangkulan akrab. Castro menolak untuk berfoto bersamanya.

Neruda sungguh tak mengerti akan sikap Castro itu. Dia membandingkan sikap Castro itu dengan sikap Che Guevara yang dinilainya cukup akrab dan suka berkelakar. Bahkan, Neruda terharu mendengarkan cerita Che, kalau salah satu karyanya dibacakan Che kepada para gerilya di Sierra Maestra di Kuba. Beberapa tahun kemudian Neruda gemetar mendengar Che meninggal. Apalagi dia diberitahu oleh Regis Debray bahwa di dalam ransel Che di hutan Bolivia hanya terdapat dua buku: buku Aritmatika dan buku karya Neruda.

Nasib buruk menimpa Neruda, partai komunis dilarang di Cile tahun 1948. Neruda bereksil ke Amerika, Eropa dan Asia (India dan RRC) dari tahun 1949 sampai 1952. Neruda sempat tinggal di pulau Capri, Italia bersama Matilda Urruti. Berkat kedatangannya di pulau Capri tersebut, belakangan muncul lah sebuah film yang sangat terkenal di kalangan penyair, yakni berjudul „Il Postino." Pulau Capri di seberang kota Napoli itu pernah dipakai sebagai tempat eksil oleh Maxim Gorki antara tahun 1907-1913. Pada awal eksilnya, tahun 1949, Neruda mendapat undangan ke Rusia untuk menghadiri ulang tahun ke-150 penyair Puschkin. Tahun 1952 Neruda kembali ke Cile dari masa pengasingannya dan membawa 6000 buku. Lalu, buku-buku itu disumbangkan pada universitas Santiago de Cile. Tahun 1955 dia berpisah dengan pasangannya, Delia del Carril. Akhirnya, Neruda kawin lagi dengan Matilda Urutti pada tahun 1966. Selama kurun waktu itu sudah banyak karya Neruda dihasilkan dan diterbitkan. Sementara itu terjadi perubahan politik di Cile. Salvador Allende menjadi presiden Cile pada tahun 1970.

Pro-Kontra Nobel Sastra
Pada tanggal 21 Oktober 1971, Karl-Ragnar Gierow, sekretaris akademi Swedia, mengumumkan peraih nobel sastra bernama Neftali Ricardo Reyes y Basoalto, yang bertugas sebagai duta besar Cile di Paris. Sesaat para wartawan dan juru foto bingung, mereka tak pernah mendengar nama sastrawan tersebut. Tak berapa lama pidato diteruskan, ternyata nama samaran sastrawan itu adalah Pablo Neruda.

Selama 15 tahun Neruda dicadangkan sebagai peraih nobel sastra. Pertama kali pada tahun 1956, yang direkomendasikan oleh seorang profesor di fakultas sastra di Aix-en Provence, Prancis. Neruda tercatat sebagai peraih nobel sastra ketiga dari kawasan Amerika Latin, setelah Gabriela Mistral dari Cile (tahun 1945) dan Miguel Asturias dari Guatemala (tahun 1967).

Keputusan akademi Swedia sering mengundang pendapat pro dan kontra di berbagai negara. Buku "Nobelpreis für Literatur" mengutip berbagai media, antara lain "Le Monde" di Prancis yang menyambut gembira. Koran nasional Swiss "Neue Zürcher Zeitung" menurunkan berita bahwa kinilah saatnya pemerhati karya Neruda memetik hasilnya. Di Inggris "The Guardian" menulis, sebuah humanisme murni, yang peka terhadap perang saudara di Spanyol dan tanggap terhadap kemiskinan. Di Mailand koran "Corriere della Sera" mempercayai keputusan akademi Swedia tanpa kritik. Sebaliknya ada beberapa media yang mengkritik, antara lain "Le Figaro". Media borjuis liberal di Prancis ini mengatakan bahwa politik kepenyairan kadang ikut berperan. Sebuah koran katholik "La Croix" di Prancis berkomentar bahwa nobel sastra adalah sebuah fenomena politik. Media ekstrem kanan Prancis "L`Aurore" menuduh peraihan nobel sastra oleh Neruda adalah sebuah kemenangan komunis internasional.

Lepas dari banyaknya pendapat yang berseberangan, Neruda dan Matilda menikmati masa-masa tuanya di sebuah bangunan rumah berarsitektur kapal di pinggir pantai pasifik. Rumah itu dia namakan "Isla Negra" (Pulau Hitam). Tiga bangunan yang langsung menghadap pantai menambah kedamaian hidup mereka. Mereka ditemani dua ekor anjing yang dibawa Neruda dari Cina. Kedua anjing itu diberi nama Panda dan Tschu Tu. Pada hari-hari akhir hidupnya Neruda mengatakan,"Aku selalu mengerjakan hal yang sama. Aku tak pernah akan berhenti melakukan hal itu, menulis puisi. Menulis bagiku seperti pekerjaan tukang sepatu, yang tidak makin baik atau makin buruk."

Neruda menganggap membaca dan menulis merupakan pekerjaan yang sama pentingnya. Akan tetapi, dia sangat tidak suka mencari definisi dan etiket pada sebuah karya. Apalagi membicarakan estetika yang menurutnya sangat membosankan. Dia juga tak mau membandingkan karya atau pun menganggap rendah karya lain. Dia hanya merasa lahirnya sebuah karya sama asingnya dengan hasil karya itu sendiri. Neruda menyitir ungkapan dari Walt Whitman, "Aku tidak ingin pengaruh luar menguasaiku."

Pada tanggal 11 September 1973 Allende dibunuh di istana. Pergantian kekuasaan dengan cara kudeta oleh jenderal Augusto Pinochet sempat didengar oleh Neruda melalui radio di pagi hari. Dua belas hari berikutnya, tepatnya tanggal 23 September menjelang pukul sebelas malam, Neruda meninggal di Santiago de Cile, karena menderita penyakit kanker. Mayat Neruda dikuburkan di dekat rumahnya "Isla Negra."
read more...